Gua vertikal di Semanu yang dituruni dengan tali, terkenal dengan berkas cahaya siang di Luweng Grubug.
Insider tip
Cahaya Grubug paling jelas di musim kemarau, Mei sampai September. Di musim hujan langit sering mendung dan sinarnya tipis atau tidak muncul sama sekali.
Jomblang adalah luweng, lubang runtuhan tanah dengan mulut sekitar 50 meter. Pengunjung diturunkan dengan tali ke dasarnya, yang ditumbuhi hutan purba. Dari situ jalan kaki lewat lorong gelap ke Luweng Grubug, ruang gua dengan lubang di atapnya yang tingginya sekitar 90 meter. Sekitar pukul 11.00 sampai 12.00, kalau cuaca cerah, sinar matahari masuk lewat lubang itu dan membentuk tiang cahaya.
Luweng terbentuk karena atap gua di batuan karst runtuh ribuan tahun lalu, membawa tanah dan tanaman di atasnya ikut turun. Ada juga cerita kelam yang diwariskan warga: gua ini dulu disebut pernah dipakai untuk membuang jenazah orang yang dituduh anggota PKI.
Dari kota Yogyakarta kira-kira 1,5 jam. Dari Wonosari hanya sekitar 20 menit ke arah Semanu. Kunjungan harus lewat pengelola yang menyediakan tali, harness, helm, dan pemandu, dan kuotanya terbatas, jadi pesan dulu. Penurunan dimulai menjelang siang supaya rombongan sampai di Grubug saat cahaya muncul. Bawa sepatu yang boleh kotor, lantai gua berlumpur.