Wat kerajaan dari tahun 1560 di ujung semenanjung, dengan atap bertumpuk yang turun hampir ke tanah.
Insider tip
Prosesi sedekah pagi lewat di depan wat ini. Kalau ingin menonton, berdiri di seberang jalan, diam, dan jangan pakai lampu kilat.
Kids: plan ahead
Wat aktif: anak harus tenang, bahu sampai lutut tertutup, dan sepatu dilepas sebelum masuk aula. Halamannya datar dan mudah dijelajahi.
Assessed from the sources listed for this place. Check conditions on the day.
Wat Buddha di ujung utara semenanjung Luang Prabang, dibangun Raja Setthathirath pada 1559-1560. Atap sim, aula utamanya, bertumpuk dan turun rendah, ciri khas gaya Luang Prabang. Dindingnya dihias mosaik kaca berwarna. Sampai 1975 wat ini dilindungi keluarga kerajaan dan dipakai untuk penobatan raja.
Salah satu bangunannya menyimpan kereta jenazah kerajaan yang diukir dan dilapisi emas. Situs resmi pariwisata Luang Prabang mencatat wat ini selamat dari pembakaran kota pada perang 1887, dan sudah empat kali dipugar.
Datang pagi. Cahayanya bagus untuk foto dan rombongan tur belum banyak. Wat ini masih dipakai biksu, jadi tutup bahu sampai lutut dan lepas sepatu sebelum masuk sim.