Masjid kesultanan dari 1748 dengan atap bertingkat bergaya campuran Jawa, Tiongkok, dan Eropa.
Insider tip
Lihat menaranya dari halaman sisi timur. Bentuk aslinya tidak sama dengan bangunan tambahan yang lebih baru, dan perbedaannya paling jelas dari sudut itu.
Masjid yang dibangun Sultan Mahmud Badaruddin I dan selesai pada 1748. Atapnya bertingkat dengan ujung melengkung menyerupai gaya Tiongkok, sementara menaranya mengambil bentuk yang berbeda lagi. Percampuran gaya ini menggambarkan Palembang sebagai kota dagang yang menerima pengaruh dari banyak arah. Masjid ini sudah beberapa kali diperluas dan sekarang termasuk yang terbesar di Sumatera.
Atap bertingkat seperti ini adalah ciri masjid Nusantara awal, dari masa sebelum kubah bergaya Timur Tengah jadi umum di Indonesia.
Gratis, dan letaknya sekitar 10 menit jalan kaki dari Benteng Kuto Besak. Datang di luar waktu salat. Berpakaian tertutup, perempuan membawa kerudung.