Kalimantan Barat, Indonesia
Ibu kota Kalimantan Barat, berdiri di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, dan dilewati garis khatulistiwa. Kotanya dibuka pada 23 Oktober 1771 oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie, yang membangun keraton dan masjid di tepi sungai. Penduduknya campuran Melayu, Tionghoa, dan Dayak. Paling terasa di makanannya.
Masjid, kelenteng, dan gereja di satu kota
Etiket
Ke Masjid Jami dan Masjid Raya Mujahidin pakai pakaian tertutup, dan perempuan membawa kerudung. Di kelenteng boleh masuk, tetapi jangan berdiri di depan altar saat orang bersembahyang dan jangan menyentuh hio. Saat Ramadan, jangan makan di tempat umum siang hari.
Melayu Pontianak, Teochew, dan Hakka
Bahasa
Bahasa sehari-hari orang Melayu Pontianak memakai kata seperti kamek untuk saya dan kitak untuk kamu atau kalian. Di kalangan Tionghoa terdengar bahasa Teochew, dan Hakka di daerah utara seperti Singkawang. Semua orang mengerti bahasa Indonesia.
Kota warung kopi; tanyakan isi masakan Tionghoa
Kuliner
Warung kopi buka dari pagi sampai larut dan jadi tempat orang bertemu. Makanan Tionghoa seperti kwetiau dan bakmi sering memakai babi, sementara versi halal juga mudah ditemukan. Kalau tidak makan babi, tanyakan dulu, termasuk minyak dan kuahnya. Coba choi pan, bubur pedas, dan lidah buaya yang jadi oleh-oleh khas.
Bandara di Kubu Raya, sungai di tengah kota
Transportasi
Bandara Supadio ada di Kabupaten Kubu Raya, sekitar setengah jam dari pusat kota. Taksi bandara dan ojek daring tersedia. Kota dibelah Sungai Kapuas dan Landak, jadi untuk ke Pontianak Timur Anda bisa lewat jembatan atau naik sampan penyeberangan yang lebih cepat di jam ramai.
Kulminasi matahari dua kali setahun
Waktu Terbaik
Pontianak memakai WIB dan dilewati khatulistiwa, jadi panas sepanjang tahun dengan hujan sering di sore hari. Sekitar 21 sampai 23 Maret dan September ada acara kulminasi di Tugu Khatulistiwa saat bayangan hilang di tengah hari. Di tahun kering bisa ada kabut asap. Cek kabarnya dulu.
No tours here yet. Check back soon.
Sore, dan paling mudah ditemukan saat Ramadan untuk berbuka
Local insight
$
Gereja katedral Keuskupan Agung Pontianak, bangunan barunya diresmikan pada 2014.
$
Istana Kesultanan Pontianak dari kayu di tepi Sungai Kapuas, dibangun 1771 sampai 1778.
$
Masjid tertua di Pontianak, dari kayu, berdiri di tepi Sungai Kapuas dekat keraton.
$
Masjid raya Kalimantan Barat di pusat Pontianak, gagasannya lahir dari tokoh Muslim pasca-kemerdekaan.
$
Museum provinsi di Jalan Ahmad Yani dengan koleksi budaya Melayu, Dayak, dan Tionghoa.
$
Replika rumah panjang Dayak Kanayatn di Pontianak, dipakai sanggar seni dan acara adat.
$
Naik perahu di sungai terpanjang Indonesia, melewati keraton, masjid tua, dan kampung di atas air.
$
Penanda garis khatulistiwa di Pontianak Utara, dengan tugu asli 1938 di dalam kubah dan duplikat lima kali lebih besar di atasnya.
$
Wihara tertua di Pontianak di tepi Sungai Kapuas, gabungan tiga kelenteng sejak 1906.
$
Sebelas tiang bambu runcing merah-putih di Bundaran Untan, untuk tokoh Sarekat Islam yang dibuang ke Boven Digoel.