Jawa Tengah, Indonesia
Kota pegunungan di kaki Sindoro dan Sumbing, berdiri sebagai kabupaten pada 1825. Dari sini jalan naik sekitar satu jam ke Dataran Tinggi Dieng, kawasan candi Hindu tertua di Jawa, kawah, dan telaga. Dieng terbagi dua kabupaten. Sebagian tempat di katalog kota ini secara administratif ada di Banjarnegara.
Dua logat bertemu di Dieng
Bahasa
Di kota Wonosobo orang berbahasa Jawa dengan logat yang mirip Magelang. Begitu naik ke Dieng sisi Banjarnegara, logat Banyumasan atau ngapak mulai terdengar, dengan bunyi a yang tidak berubah jadi o. Bahasa Indonesia dipahami di mana saja. Pedagang di kawasan wisata sudah terbiasa dengan pendatang.
Siang sejuk, malam sangat dingin, embun beku di musim kemarau
Cuaca
Suhu di Dieng sekitar 12 sampai 20 derajat pada siang hari dan 6 sampai 10 derajat pada malam hari. Pada puncak musim kemarau, sekitar Juli dan Agustus, embun bisa membeku di rumput pada subuh hari, yang oleh warga disebut embun upas. Kabut sering turun sejak sore. Jadwalkan telaga dan kawah pada pagi sampai siang.
Anak berambut gimbal tidak untuk disentuh
Etiket
Di Dieng ada anak-anak yang rambutnya tumbuh gimbal secara alami, dan warga menganggap mereka titipan leluhur. Rambut itu hanya dipotong lewat ruwatan, sering setelah si anak menyebut permintaan yang harus dipenuhi orang tuanya. Jangan menyentuh rambut mereka dan jangan memotret dari dekat tanpa izin keluarga. Di kawasan candi, jangan duduk atau memanjat bangunan.
Mi ongklok, tempe kemul, dan carica
Kuliner
Mi ongklok adalah mi rebus berkuah kental berkanji dengan kol dan kucai, biasanya dimakan dengan sate sapi. Tempe kemul, tempe goreng berbalut adonan tepung berwarna kuning, ada di hampir setiap warung. Dari Dieng, oleh-oleh yang paling khas adalah manisan carica, pepaya gunung kecil dalam sirup. Purwaceng, tanaman Dieng yang dijual sebagai minuman seduh, juga banyak ditawarkan.
Bus ke kota Wonosobo, lalu minibus ke Dieng
Transportasi
Wonosobo tidak dilewati kereta. Bus dan travel datang dari Yogyakarta, Semarang, dan Purwokerto ke Terminal Mendolo. Dari kota, minibus ke Dieng berangkat dari pusat kota dan perjalanan naiknya sekitar satu jam. Di dataran Dieng sendiri, jarak antara candi, kawah, dan telaga dekat, tetapi ke Sembungan dan Sikunir lain cerita. Naik ojek atau kendaraan sendiri.
No tours here yet. Check back soon.
Siang hari di kawasan Dieng
Local insight
$
Bukit di atas Desa Sembungan untuk melihat matahari terbit dengan Sindoro di depan mata.
$
Candi paling selatan di Dieng, atapnya mirip shikhara India dengan relief kepala kudu.
$
Candi Hindu Siwa di barat Kompleks Arjuna, satu-satunya yang masih berdiri dari kelompoknya.
$
Gunung 2.590 meter dengan puncak berupa padang rumput memanjang, pendakian singkat favorit untuk berkemah.
$
Gunung api aktif 3.153 meter berpasangan dengan Sumbing, terlihat dari hampir seluruh Wonosobo.
$
Perkebunan teh sejak 1865 di lereng barat Sindoro, 16 km di utara kota Wonosobo.
$
Deretan candi Hindu abad ke-8 di tengah dataran Dieng, termasuk yang tertua di Jawa.
$
Museum Dieng berisi arca dari candi-candi sekitar, geologi dataran, dan sistem kepercayaan warganya.
$
Danau vulkanik di kaki Gunung Pakuwaja yang airnya menggerakkan PLTA Garung.
$
Danau di ketinggian 2.000 meter yang airnya bergeser dari hijau ke kuning karena kandungan sulfur.
$
Telaga di Desa Sembungan, titik awal pendakian Sikunir dengan area kemah di tepinya.
$
Lapangan kawah aktif di dataran datar Dieng, lumpurnya meletup dan titik gasnya berpindah-pindah.