
Jawa Barat, Indonesia
Kota pelabuhan di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, tempat budaya Sunda, Jawa, Tionghoa, dan Arab bertemu. Punya tiga keraton yang masih berdiri dan tradisi batik pesisir yang khas.
Pagi untuk keraton, hindari musim hujan puncak
Waktu Terbaik
Keraton dan pasar paling hidup sebelum jam sepuluh pagi. Setelah tengah hari Cirebon panas dan lembap karena kota pesisir, jadi sisakan siang untuk tempat beratap. Musim hujan sekitar Desember sampai Februari bisa menyebabkan genangan di beberapa ruas jalan kota. Bulan paling nyaman sekitar Mei sampai September.
Berpakaian tertutup di makam dan masjid
Etiket
Cirebon adalah kota ziarah, dan Makam Sunan Gunung Jati ramai peziarah sepanjang tahun. Kalau berkunjung ke makam atau masjid, berpakaian tertutup sampai bahu dan lutut, dan perempuan sebaiknya membawa kerudung. Jangan memotret orang yang sedang berdoa. Di kawasan makam ada banyak kotak sumbangan dan orang yang menawarkan jasa, tidak semuanya resmi, jadi tidak perlu sungkan menolak.
Tiga keraton, dan cara menyikapinya
Budaya
Cirebon punya tiga keraton yang semuanya masih dihuni keluarga sultan: Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Ini rumah orang, bukan museum kosong. Sebagian ruangan tertutup dan itu wajar. Pemandu di dalam biasanya kerabat keraton sendiri, jadi memberi imbalan setelah dipandu adalah kebiasaan yang pantas. Jangan duduk di tempat yang dikhususkan atau menyentuh benda pusaka.
Nasi jamblang, empal gentong, dan tahu gejrot
Kuliner
Nasi jamblang disajikan di atas daun jati dengan lauk yang dipilih sendiri dari deretan wadah. Empal gentong adalah gulai daging yang dimasak dalam kendi tanah liat dan dimakan dengan kucai. Tahu gejrot disiram kuah gula asam pedas di atas piring gerabah. Ketiganya mudah ditemukan dan hampir semuanya halal, tapi perhatikan bahwa sebagian warung di kawasan pecinan menjual olahan babi, jadi tanya dulu.
Kereta dari Jakarta, becak di dalam kota
Transportasi
Cirebon dilewati jalur kereta utama, jadi dari Jakarta sekitar tiga jam dengan kereta dan itu cara paling nyaman. Ada dua stasiun, Cirebon Kejaksan dan Cirebon Prujakan. Di dalam kota, jarak antarkeraton dekat dan becak masih banyak, cocok untuk rute keraton dan pasar. Untuk ke Trusmi atau Makam Sunan Gunung Jati, pakai ojek daring atau sewa mobil karena jaraknya di luar pusat kota.
No tours here yet. Check back soon.
Local insight
Showing 12 of 14
$
Ritual Maulid di Keraton Kasepuhan, arak-arakan benda pusaka pada malam 12 Rabiulawal.
$
Syukuran nelayan pesisir Cirebon. Sesaji dilarung ke laut dengan perahu hias.
$
Stasiun kereta tahun 1912 dengan dua menara kembar, masih melayani kereta jarak jauh tiap hari.
$
Masjid cagar budaya berusia sekitar lima abad dengan pagar bata merah dan perpaduan langgam Arab dan Tionghoa.
$
Kompleks makam salah satu Wali Songo, ramai peziarah dari seluruh Jawa.
$
Kompleks gua buatan dari batu karang, dulu tempat bertapa dan berlatih prajurit keraton.
$
Masjid abad ke-16 yang dibangun pada masa Sunan Gunung Jati, tanpa kubah.
Landmark$
Kantor wali kota tahun 1927 bergaya Mazhab Amsterdam, dijuluki warga Balai Udang.
History$
Keraton dari 1678 di belakang pasar, lebih sepi dan lebih apa adanya daripada Kasepuhan.
$
Keraton tertua di Cirebon, berdiri sejak 1529 dengan tembok bata merah khas Majapahit.
Religious$
Kelenteng tertua Cirebon di tepi pelabuhan lama, berdiri sejak abad ke-16.
$$
Sentra batik pesisir Cirebon, tempat motif Mega Mendung dibuat dan dijual.